Petualangan Toraja III

Kain Ikat & Pasar Rantepao

Namun Toraja bukanlah kota dimana wisatawan tidak bisa menemukan hal lainnya kecuali kuburan. Bagi teman-teman yang suka kain tradisional (kain ikat Toraja), dapat mengunjungi daerah Sa’dan untuk melihat langsung (dan juga membeli) proses pembuatan kain Ikat Toraja.

Kain tradisional ini ada yang dibuat tradisional tanpa mesin, dan yang modern dengan menggunakan mesin. Harga tentu saja beda. Semakin sedikit penggunaan mesin dalam pembuatan kain Ikat, semakin mahal pula biasa harganya. Bangganya, kain-kain Sa’dan ini banyak yang diekspor keluar negeri karena banyaknya peminat asing terhadap kecantikan kain Ikat ini.

Selain Sa’dan, Pasar Rantepao merupakan pilihan lainnya untuk berbelanja dan membeli banyak kerajinan asli Tana Toraja. Mulai dari pahatan tradisional, kue-kue, sampai dengan kaos-kaos souvenir Toraja, semua dapat ditemukan ditempat ini. Harga bisa ditawar, dan pada umumnya setiap penjual ramah-ramah.

Masih banyak hal yang dapat diceritakan mengenai keindahan dan kearifan budaya Toraja, serta beberapa tempat menarik untuk dikunjungi, termasuk kegiatan arung jeram yang tidak kalah seru di sungai Sa’dan. Namun hal itu akan saya bahas di kesempatan lain dan tulisan terpisah.

Amelia Rhea (Kontributor ProAngsa)

Petualangan Toraja II

Kuburan-kuburan di Toraja

Ada banyak Kuburan di Toraja, satu kuburan batu biasanya dimiliki oleh satu keluarga besar, sehingga sebenarnya kuburan-kuburan tersebut adalah milik pribadi yang kemudian dijadikan warisan budaya ataupun tempat wisata. Beberapa tempat yang saya kunjungi disana termasuk Ke’teKe’su, Londa, dan Lemo. Ketiganya adalah kuburan batu yang dimiliki oleh 3 keluarga yang berbeda.

Hanya orang-orang keturunan keluarga tersebut yang dapat dikuburkan (atau secara teknis, disimpan) dalam tempat-tempat tersebut. Cukup eksklusif. Setiap kuburan mempunyai cerita uniknya sendiri. Misal dalam kuburan batu di Londa, ada kisah mengenai sepasang tengkorak yang dikuburkan disana, yang merupakan kisah Romeo dan Juliet versi local. Pada dasarnya kedua tengkorak tersebut dulunya adalah sepasang kekasih, yang juga sepasang sepupu, sehingga tentu saja keluarga besar tidak menyetujui adanya hubungan asmara yang lebih lanjut. Singkat cerita mereka minum racun dan bunuh diri, lalu mayatnya disimpan dalam kuburan batu tersebut.

Itu baru kuburan batu. Di daerah Selatan Toraja, ada kuburan khusus untuk bayi-bayi yang belum tumbuh gigi, tepatnya di tempat yang bernama Kambira. Kuburan ini unik karena proses penguburan bayi-bayi yang meninggal tersebut adalah dibungkus dengan kain Lampin dan daun Pinang lalu dimasukkan kedalam batang pohon besar.

Nama pohon yang menjadi ‘kuburan’ bagi bayi-bayi tersebut adalah pohon Tara. Ada aturan khusus dalam penguburan bayi ditempat ini. Jika sang bayi yang meninggal tersebut berasal dari rumah disebelah utara, maka dia akan dikuburkan di bagian selatan pohon, begitu juga sebaliknya. Adalah kepercayaan masyarakat local, bahwa sang bayi pada akhirnya akan bersatu dengan si Pohon. Ritual penguburan bayi seperti ini hanya berlangsung di bagian Selatan Tana Toraja

Namun praktek penguburan bayi dalam pohon ini telah dihentikan semenjak puluhan tahun yang lalu. Sayangnya lagi, sekitar tiga sampai empat tahun yang lalu angin besar telah merontokan bagian atas pohon yang berfungsi sebagai kuburan ini, sehingga yang tersisa adalah batang pohon besar yang sisa-sisa daun yang masih menjulang tinggi diatas sebagai atraksi bagi para wisatawan.

Upacara Kematian

Sayang sekali setiap saya kesana, saya selalu melewatkan upacara kematian yang menjadi tontonan dan tujuan Utama dari setiap wisatawan yang berkunjung ketempat ini. Apa boleh buat, saya hanya dapat menghampiri tempat ini pada akhir minggu, sedangkan semua upacara adat biasanya berlangsung pada hari kerja. Akhir minggu merupakan waktu beristirahat sehingga tidak ada (mungkin jarang sekali kalaupun ada) upacara yang diadakan oleh masyarakat.

Biasanya upacara kematian di Tana Toraja berlangsung berhari-hari. Acara ini penuh dengan acara dari penerimaan tamu, sampai pertandingan dan pemotongan tedong (kerbau). Satu upacara yang besar bisa menghabiskan dana hingga ratusan sampai miliaran rupiah. Bukan jumlah yang sedikit, namun orang-orang Toraja begitu kuat memegang akarnya sehingga mereka bahkan menunggu hingga tahunan, bahkan puluhan tahun untuk mengumpulkan dana dan melaksanakan upacara tersebut.

Amelia Rhea (Kontributor ProAngsa)

Petualangan Toraja I

TORAJA: TANAH PARA RAJA

Anak muda dan jalan-jalan adalah dua kata yang seringkali dipakai secara berdampingan dalam satu kalimat. Layaknya anak muda lainnya, saya juga suka jalan-jalan, menikmati alam dan lingkungan sekitar saya. Saya sampai memiliki daftar tempat-tempat yang suatu hari nanti harus saya kunjungi, karena cintanya (dan besarnya rasa penasaran) saya untuk menjelajahi tempat-tempat baru. Dari ujung bumi satu ke ujung bumi yang lain, dalam daftar saya itu sudah tertulis banyak tempat dan kegiatan yang ingin saya coba.

Suatu waktu ketika saya melihat ulang daftar keinginan saya tersebut, banyak yang terletak di luar negeri. Lalu saya terusik, kenapa sedikit sekali yang ingin saya datangi di dalam negeri sendiri? Usut punya usut, informasi yang saya dapatkan tentang tempat-tempat menarik itu lebih banyak tentang luar negeri sedangkan informasi mengenai negeri sendiri belum begitu popular.

Kali ini saya ingin berbagi salah satu cerita mengenai kemegahan alam dan budaya Toraja, yang saya yakin, belum menjadi tujuan wisata popular bagi banyak anak muda di Indonesia karena mahalnya biaya transportasi dan akomodasi. (Maklum, lebih murah jalan ke Singapura dan bahkan ke Thailand kadang dibandingkan ke tempat ini).

Kota ini sudah termasyur sampai dengan ujung benua, namun ketika saya beberapa kali mengunjunginya, lebih banyak turis mancanegara yang mampir dan mengapresiasi apa yang ada disana. Buktinya bisa dilihat dari banyaknya pemandu wisata yang tidak saja bisa berbahasa Inggris, namun juga fasih berbahasa Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol, dll.

Tempat wisata kebanyakan di Toraja adalah berupa kuburan. Kuburan batu, Kuburan pohon, Kuburan batu lainnya, pokoknya temanya itu akrab dengan kematian. Ada juga tempat wisata alam lainnya, seperti pemandian air panas dan tempat untuk melihat pemandangan dari atas bukit, namun primadona wisatanya tetaplah yang berbau kematian.

Perayaan Kematian merupakan hal yang tidak terpisahkan dari masyarakat Toraja. Perayaan kematiaan bisa dilaksanakan hingga satu minggu penuh dengan ribuan undangan yang melayat, ataupun turis yang penasaran dengan tata cara adat pemakaman di daerah Toraja. Berikut adalah beberapa hal penting maupun tempat yang sempat saya kunjungi dalam beberapa lawatan saya ke tempat ini

TONGKONAN: Lambang Kebanggaan

Rumah tradisional Toraja disebut dengan nama Tongkonan, dan terbuat dari Kayu yang ujung-ujung atapnya membentuk semacam bentuk tanduk yang menjulang ujungnya ke langit. Selain menjadi tempat tinggal, Tongkonan juga digunakan oleh masyarakat Toraja sebagai tempat penyimpanan beras dan juga tempat penyimpanan mayat (sebelum mereka diupacarakan). Umumnya setiap keluarga di Toraja memiliki Tongkonan, dengan banyak macam ukuran. Harganya bisa mencapai lima ratus juga lebih untuk memilki Tongkonan dengan ukuran sedang.

Banyak sekali ukiran yang menghiasi bagian luar Tongkonan Toraja ini. Begitu halus sehingga rasanya wajar jumlah yang harus dibayarkan untuk memiliki sebuah Tongkonan.

Ketika memasuki bagian dalam Tongkonan, saya baru menyadari bahwa pembuatan rumah tradisional ini tidak menggunakan paku atau apapun yang berbahan dasar besi. Masyarakat Toraja mempunyai teknik tradisional khusus yang sangat ramah lingkungan. Bahan dasar Tongkonan biasanya diambil dari kayu pohon Uru. Uniknya, tidak ada serangga yang menggerogoti kayu di Tongkonan, sehingga biasanya mereka hanya membangun kembali setelah puluhan, bahkan ratusan tahun. Atap Tongkonan itu dibuat dari bamboo dank arena tingginya langit-langit dalam Tongkonan, orang Toraja tidak butuh AC dan sejenisnya untuk merasa sejuk di dalam rumah.

Amelia Rhea (Kontributor ProAngsa)

Pemuda dan Kekerasan Media

Tragedi penembakan di Aurora, Colorado pada saat premier pemutaran film Batman, The Dark Knight Rises menjadi salah satu contoh yang paling baru mengenai akibat dari Kekerasan Media. James Holmes (24) menyatakan bahwa dirinya adalah The Joker (musuh Batman), mempersenjatai dirinya dengan banyak senjata dan amunisi, juga membuat “sistem keamanan” di apartemennya, seperti tumpukan bahan peledak dan senjata peluru runcing yang dia “harapkan” bisa berfungsi ketika ada penyusup, penyelidik, ataupun polisi yang masuk ke dalamnya. Hal ini benar-benar mirip dengan yang seringkali kita lihat di dalam film-film box office. 

Dengan membuat dirinya sebagai “The Joker” kita bisa melihat bahwa, Holmes pasti sudah menonton film Batman sebelumnya, Batman The Dark Knight dimana musuh utama Batman saat itu adalah The Joker. Tidak hanya itu, sepertinya Holmes sudah begitu familiar dengan tokoh komik ini. Lalu, muncul pertanyaan, apakah film Batman itu menunjukkan kekerasan yang membahayakan? Apakah film (secara umum) berbahaya??

Kekerasan media muncul tidak hanya dari film, tetapi juga social media, seperti Twitter, Facebook, Youtube, bahkan google search, televisi, koran, majalah, radio, well, semua media komunikasi. Kita berada dalam masa dimana semua itu ada di genggaman tangan kita, pada smart phones kita, tablet kita, pad kita. 

Lalu, apakah kita harus kubur itu semua di dalam tanah, musnahkan dan kembali hidup pada masa jaman pertengahan, dimana segalanya dikirim dengan kurir atau merpati, yang tentu saja bisa memakan waktu berbulan-bulan jika tempat yang dituju di pulau lain, atau bahkan tahunan karena ada di belahan dunia lain?!

Tentu tidak. Teknologi informasi adalah berkat Tuhan. Para penemunya juga mendapatkan anugerah talenta, dan kemampuan dari Tuhan untuk menciptakan teknologi-teknologi baru yang terkadang melebih dari ekspektasi atau bayangan kita. Media informasi sangat memudahkan kita untuk belajar banyak hal, bahkan memberikan pengharapan dan uluran tangan bagi saudara-saudara kita di tempat lain. Media informasi saat ini memperluas pandangan kita, mengenai banyak hal, bahkan mengenai karya-karya Tuhan. Sekarang bagaimana kita melihat tragedi yang terjadi itu? Kenapa hal itu bisa terjadi? Jika tujuan dari teknologi itu baik, mengapa hal mengerikan yang menewaskan gadis kecil berusia 6 tahun, dan yang membuat ibunya terluka parah tak sadarkan diri, seperti itu terjadi?

Saya yakin ada maksud Tuhan dalam setiap kejadian yang terjadi setiap detik dalam kehidupa di dunia ini. Bagi setiap korban pasti ada pembelajarannnya, bagi kita pun demikian. Melalui kejadian ini kita melihat bahwa kita harus terus berjaga-jaga. Bukan urusan keselamatan badan, tetapi justru berjaga-jaga atas jiwa kita sendiri, agar tidak dirusakkan dengan semua pengaruh buruk yang ada di bumi. 

Tidak ada satu halpun yang terjadi di luar diri kita yang bisa kita atur. Kita juga tidak bisa menentukan hal seperti apa yang datang pada kita. Tetapi, satu hal yang pasti adalah bahwa kita memiliki pilihan mengenai reaksi yang akan kita ambil terhadap hal-hal tersebut. Apa yang kita butuhkan untuk membuat pertahanan jiwa yang paling kuat, yaitu dengan nilai-nilai, kontrol sosial, dan kekuatan kearifan lokal yang sebenarnya sudah ada di dalam diri dan masyrakat kita.

Sebagaimana tameng sesungguhnya, setelah menghadapi serangan-serangan, tentulah akan mengalami kerusakan, besar ataupun kecil, atau melemah daya tahannya. Maka, tameng itu pun perlu untuk terus diperbaiki, ditingkatkan kualitasnya, dipoles, dan juga pegangannya diperkuat sehingga tidak mudah lepas dari kita. Bagimana caranya pemuda bisa memperoleh tameng nilai dan kearfan ini? Keluarga dan organisasi masyarakat, baik sekolah, organisasi agama, maupun tempat les, bahkan media itu sendiri. Artinya, kita bersama memegang peranan penting untuk mendistribusikan tameng ini, melalui persekutuan, dialog, kegiatan-kegiatan sosial juga hiburan, dan tentu saja pendidikan.

Holmes, bukanlah orang yang tidak memiliki intelejensia. Dalam berita-berita dikatakan bahwa dia adalah seorang pemuda yang sangat pandai namun pendiam. Ayahnya bahkan memiliki suatu paten atas sebuah alat yang bisa digunakan untuk mendeteksi penipuan telekomunikasi. Dari ayah dan anak ini saja bisa dilihat bagaimana teknologi punya pengaruh baik, bagi sang ayah ini memicunya untuk membuat suatu teknologi yang bisa membantu orang lain, sedangkan anaknya terbawa pada situasi yang merugikan orang lain. 

Holmes mungkin tidak memiliki orang-orang di sekitarnya yang memberikan dia tameng itu, dia tidak berada di sekitar orang-orang yang mengajak dia untuk merawat tameng-tameng nilai dan kearifan yang sesungguhnya sudah ada di dalam dirinya. Kita bisa mengatakan bahwa dia bertanggung jawab penuh atas perilakunya, bahkan kita bisa mengatakan bahwa dia mengalami gangguan jiwa. Tetapi, itu semua juga merupakan tanggung jawab orang di sekitarnya, tidak hanya keluarganya, tetapi masyarakat di sekitarnya.

Jadi saya merefleksikan kejadian ini, dan berpikir tentang apa yang bisa kita pelajari, meskipun kita berada sangat jauh dari tempat kejadian. Bahwa, kita sebagai pemuda memiliki andil paling besar atas diri kita, untuk melindungi jiwa kita dari pengaruh negatif dunia, tetapi sebagai orangtua, kakak, adik, om, tante, kakek, nenek, kita juga memiliki tugas untuk mendistribusikan tameng nilai dan kearifan bagi keluarga kita. Dan sebagai anggota jemaat, mahasiswa, karyawan, dan pemimpin, kita punya tugas untuk memberikan tameng itu. Bagaimana kita medistribusikannya, yaitu dengan melakukan nilai-nilai dan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita bisa mempertahankan diri dari pengaruh negatif globalisasi.  Menyatakan jati diri kita sebagai bangsa dalam kehidupan kita dalam kegigihan kita bekerja, keramahan dan kehangatan kita dengan masyarakat di sekitar kita, bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun, melalui tutur kata, juga kerelaan kita untuk berkorban, dan melayani orang lain. Setelah melakukan ini semua, kita pasti akan dimampukan untuk memilih, memilah, dan melaksanakan apa yang baik, dan  menolah apa yang keliru, atau bisa dikatakan bahwa kita bisa menjadi pemuda yang Bakhur. Selamat berjuang dan bersenang-senang!

Hiduplah Indonesia Raya!

Atha

AGAPE dan Budaya

Tanggal 18 Juni 2012 – 22 Juni 2012 yang lalu, para pemimpin dan aktivis gereja dari hampir 30 negara datang ke Indonesia, untuk berdiskusi dalam sebuah Global Forum yang diprakarsai oleh World Council of Churches (WCC-Dewan Gereja Dunia) yang disebut sebagai AGAPE Global Forum. AGAPE sendiri merupakan salah satu nama kasih bagi umat Kristen. Kasih Allah bagi manusia, kasih yang tanpa pamrih, kasih yang setia, kasih yang tidak menuntut, kasih yang tulus, bahkan kasih yang rela mati. Namun AGAPE ini merupakan satu bentuk inisiatif WCC yaitu “Alternatives Global Addressing People and Earth”. Sebuah inisiatif yang menekankan atas bentuk alternatif cara hidup yang perduli atas sesama manusia dan bumi. Hal ini melihat bahwa globalisme di bawah paham kapitalisme dan neoliberlaisme menjadi suatu sistem yang gagal, karena kesejahteraan tetap tidak merata. Bahkan lebih mengerikan karena masyrakat miskin semakin miskin, dan yang kaya menjadi sangat-tidak-masuk-akal kekayaannya.I happened to join the local committee for this event and I’m very happy to share some of the thoughts about it. Here we go.

This initiative pertama kali dicetuskan tahun 1998, kita semua ingat bagaimana kita juga jatuh ke dalam resesi ekonomi (dan politik juga) yang cukup buruk. Indonesia berada dalam kondisi hutang yang sangat dalam dan IMF ingin membantu kita hanya saja dengan syarat pengurangan subsidi dan privatisasi perusahaan pemerintah. Keadaan ini bukannya membuat negara membaik, justru semakin buruk, karena negara sendiri belum sanggup memenuhi dasar bagi masyarakatnya, tetapi masyarakat langsung dituntut untuk bekerja sendiri, sehingga perekonomian kita semakin melemah. Persaingan yang begitu terbuka, awalnya dilihat akan memberikan faktor overflow, dimana kesejahteraan itu akan mengalir dari lapisan atas ke lapisan bawah, sehingga semua orang bisa mendapatkan aksesnya. Hal yang terjadi justru sebaliknya, persaingan bisnis hanya bisa dimenangkan oleh kelompok yang memiliki modal besar, sehingga para pengusaha yang modalnya pas-pas-an hanya bisa gigit jari, dan ikut menjadi konsumen saja. Persaingan ini bisa dikatakan tidak seimbang karena banyak negara maju yang usahanya didukung pemerintah dan memang sudah lebih mapan.

Masyarakat kita justru menjadi korban budaya konsumerisme produk asing, selain itu para pekerja pabrik kita digaji dengan upah yang sangat minim, demi mengurangi biaya produksi untuk meningkatkan keuntungan perusahaan. Selain itu, begitu banyaknya pabrik yang dibangun di negara ini juga mengurangi hak kita atas udara bersih, air bersih, lingkungan yang sehat dan suhu udara yang bersahabat.

Keluarga dan sekolah merupakan sarana utama bagi penanaman budaya dalam diri seseorang. Bagaimana jadinya ketika sekolah kurikulumnya disesuaikan dengan “kebutuhan” globalisme, sedangkan kearifan lokal dan pengenalan pribadi masing-masing siswa tidak ditekankan. Demikian juga dengan keluarga yang memfokuskan anak-anak mereka untuk les bahasa asing dan tidak menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa daerahnya di rumah. Bagaimana orangtua memaksa anak-anak mereka untuk memainkan alat musik asing seperti piano, gitar, biola, flute dan seterusnya. Belajar tari ballet dan menyanyikan lagu-lagu karya Brahms, Bach, dan penggubah Eropa lainnya.

Sadarkah bahwa kita hanya menghapus diri kita, dan membiarkan pribadi kita tersapu gelombang globalisme. Kita punya hak atas kebudayaan kita. Kita punya hak atas diri kita sendiri, untuk menjadi diri kita. Jika memang kita melihat bahwa kebudayaan asing begitu indah dan begitu baik, itu tidak semata-mata karena memang kebudayaan mereka indah, tetapi karena mereka sendiri menyadari keindahannya, merawatnya, dan hidup di dalamnya.

Mungkin secara ekonomi negara ini belum sekuat negara lainnya. Tetapi, negara ini punya ideologi Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang membuat kita kuat menjadi suatu kesatuan. Kita punya kekayaan bahasa, ragam budaya, kesenian, warna dalam kain tradisional, bentuk tarian, lagu, dan alat musik. Itu kekayaan kita, yang sudah ada pada kita sejak dahulu kala.  Stop melihat keluar dan berusaha untuk menjadi orang lain, karena kita tidak akan pernah bisa. Gunakan apa yang sudah ada pada kita untuk melakukan sesuatu bagi perubahan global, bagi dunia, bagi bumi, demi perdamaian. Mulailah dari diri sendiri.

Atha on AGAPE Indonesia

Hallo! Apa kabar…

Hallo! Apa kabar teman-teman?! It’s been a long time since the last post.. Tapi tidak pernah terpikir oleh saya bahwa ini proyek ini akan berhenti begitu saja. Sejak tahun lalu, saya sudah berproses dan pembelajaran yang saya alami sungguh luar biasa.

Pengalaman yang saya alami membuat saya memiliki pandangan-pandangan bahkan objektif baru mengenai kegiatan proAngsa ini. Begitu banyak diskusi dan hal menarik yang saya lakukan bersama dengan anak bangsa di sekitar saya.

Salah satu karya anak bangsa yang seru akhir-akhir ini adalah pementasan drama musikal yang bertemakan pluralisme dan humanisme tanggal 8 Juni 2012 kemarin, dan saya sangat beruntung saya bisa turut serta dalam proses kreatifnya.Pementasan ini merupakan bagian dari rangkaian Perayaan Lustrum Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Atma Jaya. Pementasan ini ditulis, disutradarai, dan diproduksi oleh lulusan Psikologi Atma Jaya didukung dengan teman-teman lainnya seperti dari Universitas Katolik Parahyangan dan Institut Kesenian Jakarta (ulasan lengkap tentang pementasan ini tertulis dengan baik di Kompas edisi cetak tanggal 26 Juni 2012, hal. 35 – atau mungkin bisa dicari juga secara online).

Judul dari pementasan ini adalah SADA! sebuah akronim dari “sama-sama beda”. Ingin mengungkapkan keberagaman yang ada di Indonesia. Kata SADA dalam bahasa Batak sendiri artinya “satu”, pementasan ini ingin kembali mempertanyakan kepada masyarakat mengenai semboyan Bhineka Tunggal Ika, yang katanya semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ceritanya menunjukkan beragamanya suku bangsa di Indonesia, juga bagaimana provokasi, stereotyping, praduga, dan rasa iri bisa menutupi keindahan, dan hanya menyisakan kebencian. Setiap hal ini tergambarkan juga dalam lagu yang dinyanyikan yag digubah juga oleh teman-teman kita sendiri dari kalangan mahasiswa.

Pementasan ini ditutup oleh Sang Dalang dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka yang dilantunkan dengan lirih. Lagu yang begitu indah dan menyenangkan ini menjadi satu pesan ironis bagi keadaan bangsa kita saat ini. Kalimat “Aku bangga Indonesia punya banyak ragam budaya, kamu?” membuat saya berpikir, apakah kita benar-benar menyadari keadaan kita sebagai kesatuan Bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman budaya, agama, dan suku, ataukah kita hanya peduli tentang diri kita sendiri, dan terbuai dalam upaya pemenuhan konsumerisme dan materialisme?

Ini saatnya kita untuk membuat perubahan. Bukan perubahan menjadi sama dengan negara-negara yang kita anggap maju, negara-negara Barat. Tetapi merubah pola pikir dan cara pandang kita terhadap identitas diri, bangga untuk menjadi diri sendiri. Berani untuk tampil beda, rindu untuk kembali ke “kampung halaman” ke “akar”, sehingga kita menjadi pemuda yang berpribadi utuh, dan mengenal diri kita dengan baik. Berani berbeda, bukan berarti tidak takut akan penolakan. Berani berbeda adalah takut akan hal yang mungkin terjadi, tetapi tetap melakukannya, karena kita tahu dan yakin karena itulah yang baik. Aku akan mulai. Kamu?

 

Atha

Aside

Oh Film

Judul: Oh Film

Penulis: Misbach Yusa Biran

Buku ini berisi beberapa kumpulan cerita pendek yang semuanya berhubungan dengan film, khususnya film Indonesia di era tahun 50-an. Buku yang tetap menarik untuk dibaca saat sekarang ini walaupun sudah lewat lima puluh tahun lebih dari masanya.

Bagi saya buku ini bukan hanya sekedar buku kumpulan cerita pendek belaka. Buku ini menggambarkan masyarakat Indonesia pada saat itu menghadapi kesenian, era film, produksi film, dan bagaimanan kehidupan Jakarta pada masa itu. Cara penuturan penulis yang menggabungkan banyak gaya bahasa membuat cerita ini makin manis dan banyak guyonan khas yang lucu, tapi miris juga. Tokoh-tokohnya pun tidak jauh-jauh adalah masyarakat seni yang hidup melarat di pinggiran senen sambil menikmati kopi dan kue putu. Suatu perpaduan aktivitas yang sudah tidak biasa untuk saat ini.

Penggambaran tentang bagaimana para penggarap film dalam membuahkan sebuah karya yang bermutu tapi miskin atau racun tapi kaya. Di mana pada masa itu, banyak sekali produser film yanga adalah orang bisnis dan menjunjung tinggi pendapatan ketimbang seni dan intelektualitas.

Menurut saya, buku ini sama sekali tidak ketinggalan zaman, bahkan patut dibaca bagi para masyarakat film Indonesia agar terbukakan, bahwa sampai saat ini pun perfilman Indonesia belum berubah sama sekali. Kehidupan, cerita, latar belakang perfilman Indonesia tidak terlalu berkembang malah justru bisa dibilang jalan di tempat. Buku yang singkat, padat, menarik, berbobot. dan merupakan catatan sosial masyarakat film Jakarta. Good!

Kontributor ProAngsa: Martya Litna Gemellita

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.