Budaya Kita Budaya Siapa?

Waktu beberapa bulan yang lalu teman-teman saya kebakaran jenggot karena Malaysia yang dianggap berani-beraninya mengklaim budaya kita, saya sibuk tertawa-tawa saja. Pertama, rasanya lucu kalau kita mempermasalahkan pencurian budaya. Anda percaya bahwa budaya bisa dicuri? Saya tidak. Saya percaya akan adanya akulturasi budaya. Saya percaya bahwa budaya bisa menyebar. Saya percaya bahwa budaya bisa dibagi bersama, apalagi untuk dua daerah yang berlokasi begitu dekat seperti Indonesia dan Malaysia. Tapi itu masalah lain.

Yang lebih lucu menurut saya, adalah masalah orang-orang Indonesia yang sibuk marah-marah, bahkan mau mendeklarasikan perang, karena masalah pencurian budaya tadi. Budaya yang mana? Tari pendet? Kapankah terakhir kalinya anda menonton tari pendet? Tunggu. Mungkin lebih tepat kalau pertanyaan saya adalah, pernahkah anda menonton tari pendet? Sekarang masalah batik. Saya yakin sekarang sebagian besar orang akan menjawab pernah kalau ditanya apakah anda pernah memakai batik. Tentu saja, setelah batik kita “diklaim” orang Malaysia, baru orang-orang kita berlomba-lomba pakai batik. Namun sebelum itu, apa pernah kita memakai batik itu sendiri? Lalu rasanya aneh ketika batik dan tari pendet itu muncul di iklan negara lain, mulai kita semua menjerit-jerit marah.

Meihat reaksi atas “pencurian budaya” ini, rasanya benar kalau dibilang kemarahan yang muncul bukan berasal dari rasa penghargaan atas budaya bangsa, namun dari rasa kepemilikan yang eksesif. Kalau anda pernah nonton film Finding Nemo, kita seperti burung-burung pelikan di film itu yang ramai-ramai membeo berteriak “Mine, mine, mine!”

Saya tetap dengan pendirian saya bahwa budaya tidak bisa dicuri. Jadi wacana ini memang agak konyol. Namun yang lebih penting adalah, kalau kita mau mempertahankan budaya kita, hal pertama yang harus kita lakukan bukanlah berteriak-teriak marah kalau ada yang mengklaim budaya kita sebagai budayanya (menurut saya kita malah harus berbangga dan berterima kasih). Hal yang paling penting untuk dilakukan adalah menunjukkan dulu kalau kita sendiri bangga akan budaya kita. Langkah pertama menuju kebanggaan akan budaya kita sendiri adalah berusaha mengenal dan mengerti budaya itu sendiri lebih lanjut. Kalau kita bahkan tidak mau repot-repot untuk berusaha mengenal budaya kita sendiri, jangan berani-beraninya marah-marah kalau ada orang lain yang mengklaim budaya itu. Karena mungkin, mungkin, mereka bisa lebih menghargai budaya yang sudah lama kita lupakan itu.

-Tammie Pramono

(lulusan sebuah community college dengan konsentrasi political komunikasi di pinggiran Amerika di daerah terpencil tempat jin buang anak*  yang baru mau mulai kerja)

*yep. di Amerika ada Jin. dan yep. Jin di sana buang anak juga.

1 Comment (+add yours?)

  1. atha
    Mar 08, 2011 @ 11:36:51

    wew!! diletakkan dengan baik tulisannya tam!! switwiww!! sepaham! jangan marah kalau ga tau apa2… istilahnya, kalau memang anda merasa memiliki budaya itu, tunjukkan kalau itu milik Anda. Seorang pemiliki pasti tahu apa yang dia miliki.. kalau ga mengerti.. itu sih sama aja kita yang ngaku-ngaku itu punya kita… haahaha… malu ah..!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: