Membedah Masalah Bangsa Melalui Lakon Perwayangan tentang Seorang Pahlawan dari Cina: Teater, Budaya yang Ditinggalkan.

Ketika saya berencana meninggalkan negeri tercinta buat sekolah beberapa tahun yang lalu, kalau ditanya apa yang akan saya rindukan, saya mungkin akan jawab makanan, rumah, dan sebagainya. Betapa kagetnya saya ketika ternyata, yang paling saya rindukan adalah acara keluarga nonton Teater Koma. Setiap kali mama ngasih tau kalau mereka lagi mau nonton Teater Koma, kontan saya marah-marah. Saya pengen sekali ikut nonton.

Karena itu, saya semangat sekali ketika tadi malam menonton lakon Teater Koma yang terbaru berjudul “Sie Jin Kwie Kena Fitnah.”  Akhirnya, setelah 3,5 tahun, saya bisa juga nonton Teater Koma.

Untuk kalian yang kurang kenal dengan Teater Koma, Teater Koma adalah sebuah kelompok teater  yang didirikan di Jakarta pada tahun 1977 oleh Nano Riatiarno. Diawali dengan 12 anggota, saat ini Teater Koma didukung oleh 30 anggota tetap, dan 50 anggota cabutan. Lakon-lakon yang pernah digarapnya termasuk Opera Primadona, Sampek Engtay dan Republik Togog garapan Nano Riantiarno. Sedangkan lakon yang disadur dari karya-karya dramawan dunia termasuk Kunjungan Cinta karya Friedrich Durrenmatt dan Animal Farm karya George Orwell. Selengkapnya dapat dibaca di sini http://www.teaterkoma.org/index.php?option=com_content&view=article&id=45&Itemid=62.

Ketika kelompok-kelompok teater yang lain mulai kehilangan penontonnya, Teater Koma bisa terus eksis. Menurut saya, yang membuat Teater koma bisa tetap eksis adalah kesensitifitasnya terhadap aspirasi penonton. Seperti apa yang tertulis di websitenya, Teater Koma percaya, “Teater adalah investasi kultural jangka panjang. Jika apa yang disajikan teater tidak dimengerti oleh masyarakat, jangan masyarakat yang disalahkan.“

Lakon teaternya yang tidak mengikuti pakem, seringkali seenaknya sendiri dan, ini yang penting, lucu luar biasa membuat penonton tak pernah bosan mengikuti lakon-lakonnya. Jadi, kalau nanti kalian memutuskan untuk menonton Teater Koma, jangan harap melihat sesuatu yang serius atau sesuatu yang puitis. Karena Teater Koma adalah teater rakyat. Ia bicara seperti rakyat. Dengan kata-kata yang kadang kasar dan nyeleneh.

Sie Jin Kwie yang semalam saya tonton contohnya. Jelas-jelas ini cerita tentang seorang pahlawan dari Cina. Berani-beraninya mereka memulai dengan wayangan. Dalang yang edan (gila), wayangan yang luar biasa bagusnya dan pemain yang lucu luar biasa berhasil membuat saya terbahak-bahak. Pemain yang berakting sangat baik dengan gerak tubuh yang luar biasa lucu didukung oleh selipan-selipan wayangan yang tak kalah lucunya.

Kritik sosial yang kaya terselip dalam lakon membuat penonton bertepuk tangan. Harus diakui, di tengah kondisi bangsa yang saking berantakannya sudah jadi lucu ini, ada kepuasan tersendiri saat bisa terbahak-bahak mendengar candaan-candaan kurang ajar tentang pemimpin bangsa. Seperti waktu pewayang-pewayang yang salah bukannya mendirikan istana Sie Jin Kwie, malah mendirikan sebuah gedung kotak berjudul Pondok Cipinang, Pak Dalang gila yang  dimainkan oleh Budi Ros pun bilang, “Ini mah tempat untuk koruptor-koruptor yang tidak beruntung.” Lalu ada yang menyahut, “Kalo koruptor yang beruntung, di mana?” Tentu saja jawabannya, “Di Singapur.”

Ah, intinya, saya puas menonton Teater Koma semalam, walaupun saya baru sampai rumah jam 1 pagi, dan sekarang sedang ngantuk berat karena harus berangkat ke kantor jam 7 pagi.

Sayangnya, banyak orang yang keburu malas ketika mendengar kata teater. Kata teater erat hubungannya dengan bosan, kuno dan tua. Tapi sebenarnya, teater tidak harus bosan. Tidak harus kuno apalagi tua. Teater seperti Teater Koma tahu bahwa “teater tak boleh terpencil apalagi dipencilkan.”  Seni teater memang ada di mana-mana. Tapi teater ini menjadi teater milik kita. Karena teater ini bercerita tentang kita. Bercerita tentang masyarakat kita. Bercerita tentang permasalahan kita. Teater sudah seharusnya menjadi bagian dari masyarakat, bagian dari budaya. Bukannya ditinggalkan seperti barang usang yang harus masuk museum. Untungnya, Teater Koma ada untuk memperkenalkan bentuk teater yang lebih dekat dengan kita. Teater yang lebih dekat dengan zaman. Teater yang tidak mendikte, namun menjadi bagian dari kita. Terima kasih.

Tammie Pramono

23 Maret, 2011

3 Comments (+add yours?)

  1. amelia rhea
    Mar 24, 2011 @ 12:21:24

    ahh…belom pernah nonton teater profesional! mau banget nonton teater Koma! athaaa, kapan2 kalo gw balik ke jakarta nonton yaaaaaaa *beneran ini mah*

    Reply

  2. atha
    Mar 25, 2011 @ 11:16:22

    makanya balik mel, tanggal 26 ini gue nonton!
    Tammie, nonton kapan?

    Reply

  3. atha
    Mar 25, 2011 @ 11:21:07

    anw, salah satu hal yang selalu menarik perhatian saya untuk menonton teater koma memang gayanya yang santai.. menurut saya, dengan begitu akan lebih banyak kalangan yang bisa menikmati teater,, meski demikian saya sangat mendukung kelompok-kelompok lain untuk semakin semangat mengembangkan diri,, di sisi lain, akan sangat baik apabila masyarakat dan pemerintah juga mungkin ‘Dewan Kebudayaan’ (seperti pemerintah daerah atau direktorat yangmemiliki andil di bidang kesenian) untuk memberikan dukungan melalui kemudahan penyewaan tempat dan kesempatan untuk kelompok teater kecil yang lain berkembang, karena banyak juga yang terhambat berkarya karena kekurangan dana untuk produksi dan membuat pertunjukkan.. HIDUPLAH TEATER INDONESIA!!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: