Bahasa yang berusaha dilupakan…

Bahasa.
Bahasa. Harta tertua manusia di muka bumi. 
Bahasa. Kunci utama mengenal dunia.
Bahasa. Menggugah hati dengan gayanya.
Bahasa. Ungkapan pikir.
Bahasa. 

Indonesia.
Bahasa. Perbedaan pendidikan.
Bahasa. Saduran bahasa lain.
Bahasa. Tidak dipedulikan generasi mudanya.
Bahasa. Bukan hal yang dihargai.
Bahasa. Remeh temeh yang memuakkan.
Bahasa. Tipuan hukum.
Bahasa. Cara tepat menjilat bokong penguasa.
Bahasa. Jual janji pada rakyat.
Bahasa. Penipuan sejarah.
Bahasa. Muslihat MLM.
Bahasa. Bukan hal yang penting untuk dipikirkan.
Bahasa Indonesia.



Tidak habis pikir betapa setiap orang memandang bahwa bahasa adalah hal yang tidak terlalu penting untuk dipikirkan, digunakan, diteliti, dihargai, dipelajari, dibudidayakan. 

Bagi bangsa ini, bahasa adalah pembantu menyampaikan maksud. TITIK, Penghargaan terhadap gubahan bahasa menjadi suatu karya seni, bahasa sebagai rasa nasionalisme terhadap bangsa tidak digubris. Berusaha untuk tidak diindahkan.

Lihat saja. Di setiap sudut Indonesia, tidak ada lagi orang-orang yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Semua lebih nyaman menggunakan bahasa daerahnya ataupun bahasa asing – karena lebih menampilkan prestis golongan atas.
Jurusan Bahasa (A4) sudah mulai dihapuskan dari sekolah-sekolah. Anggapan murid yang mengambil jurusan bahasa adalah memiliki ketidakmampuan untuk mengikuti serangkaian pelajaran di jurusan ilmu pengetahuan alam maupun sosial. Bahasa dilihat tidak dapat membantu mempersiapkan masa depan seseorang. Tidak dapat menghasilkan uang yang berarti.

Membaca roman dan karya-karya angkatan balai pustaka, pujangga baru, angkatan 45 menjadi satu hal yang membosankan dan tidak penting karena bahasa yang dinilai ketinggalan jaman, cerita yang dilihat kampungan.Hei!! Setidaknya mereka menulis berdasarkan pandangan sosial. Lihat chicklit, teenlit saat ini. Bah!!! Hanya menjual mimpi dan hedonisme. Cerita cinta yang itu-itu saja, tidak ada kemampuan berpikir kritis. Apakah hidup saat ini hanya tentang cinta anak SMA?? TIDAK KAWAN! Masih banyak hal yang patut dipikirkan, lakukan intervensi. Generasi muda tidak hanya cinta-cintaan melulu. Masih ada juga penulis Indonesia yang baik. Saya akui itu dan memuji mereka, tapi kebanyakan yang dibaca generasi muda kita chicklit dan teenlit. Ini meresahkan saya secara pribadi.

Di institusi pendidikan, banyak pelajar yang tidak lagi mampu menulis essai dengan menggunakan bahasa yang baik, karena sudah lama dilupakan. Bayangkan!! Di kampus, mahasiswa melakukan presentasi dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang terkadang menampilkan sisi bodoh masyarakat itu sendiri.

“ya gitu deh..”
“pokoknya…”
“Secara kita….”
“kayak….kayak… kayak… keyk…keyk…”
“lo orang..”
“kita orang kan uda bikin penelitian…”
“… contohnya sakit kepala, mual, segala macem!”
“kayak misalnya seperti…”
“agar supaya untuk…”

Contoh kata-kata yang menampilan betapa dangkalnya cara bangsa ini menggunakan bahasa- BAHASA INDONESIA. Kata-kata ini menggambarkan mereka yang adalah calon-calon intelek bangsa ini, kesulitan untuk menggunakan dan merangkai serangkaian kalimat untuk menjelaskan pikiran mereka. Padahal mereka menggunakan bahasa ibu, Bahasa Indonesia. 

Beberapa waktu lalu Kompas memuat artikel tentang pelajaran di sekolah-sekolah. Hal yang membuat hati miris adalah bahwa saat ini pemerintah kita tida mengajarkan dengan baik supaya generasi muda kita menghargai sastra Indonesia. Mereka melihat bahwa hal tersebut bukan hal yang utama. COBA LIHAT!!! “Kebijakan” yang dilakukan sekolah demi pendidikan murid-muridnya. 
“Karena kurangnya waktu untuk mengajarkan materi matematika untuk anak-anak, maka jam pelajaran bahasa yang dikurangi.” 
Apa jadinya teman-teman muda yang mampu berhitung, tapi tidak punya rasa. Mempelajari dan menghargai seni tulis dibungkam, dihentikan sejak usia dini di sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama. Bahasa dan sastra indonesia adalah pelajaran yang dapat dengan mudah digeser waktu pelajarannya demi pelajaran yang lain.

Sedih hati ini melihat bahasa yang indah dan manis tidak lagi digunakan, bahkan dinilai ketinggalan jaman. Padahal citra bangsa ini adalah dari bahasanya sendiri. Ke mana ikrar“KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA MENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA” kalau sekarang generasi mudanya saja merasa geli untuk berbicara dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar?

*hanya sebuah curahan hati dari mantan siswa jurusan Bahasa yang sering dipandang sebelah mata karena minat yang dipelajarinya.*

 

kontributor ProAngsa: Martya Litna Gemellita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: