Ngopi yok!

Speaking of culture.. in my opinion, culture is constructed due to our everyday life routine, practice, or habits. Sekarang banyak orang yang duduk di kedai kopi modern, atau toko kelontong 24 jam, hanya untuk bersenda gurau dengan teman-teman, atau justru sedang melakukan pembicaraan penting, hingga membuat kebijakan dan keputusan bisnis penting.

Menurut hemat saya hal ini terjadi karena kebutuhan yang memaksa. Dahulu kala, berkunjung ke rumah merupakan hal yang lumrah, dan sangat disarankan (baca: silaturahmi). Namun, akhir-akhir ini dengan kesibukan yang semakin menjadi dan kemacetan yang membuat jarak dekat terasa sangat jauh membuat perjalanan menuju rumah kerabat atau teman menjadi berat. Selain itu, bagi orang yang menerima pun, tanpa menutupi apapun pasti agak enggan, jujur kita memiliki keinginan untuk tidak direpotkan dengan hal-hal lain selain bersantai dan menikmati waktu di rumah yang jarang sekali kita miliki (meskipun ini kemudian tergantung dari siapa yang ingin berkunjung, kalau sangat ditunggu, pasti dengan senang hati kegiatan menyapu, mengepel, dan mempersiapkan hidangan menjadi sangat menyenangkan!).

Mall adalah tempat yang paling tepat sebagai titik bertemu (meeting point) bagi masyarakat saat ini. Mall, selain berada di tengah-tengah juga memberikan banyak pilihan tempat dan makanan untuk mengadakan pertemuan. Kebiasaan seperti ini sebenarnnya sudah dimiliki masyarakat Indonesia sejak lama. Kebiasaan untuk bertemu dan minum kopi sudah menjadi kebiasaan masyarakat sejak lama.

Di daerah asal bapak saya, Kabanjahe (sekitar 78km dari kota Medan, Sumatera Utara), ada sebuah kedai kopi favorit saya. Bangunannya merupakan pertokoan dari jaman belanda, dengan bentuk meja dan kursi kayu yang klasik, dan lantai semen. Kopi tubruk dengan susu, ttheyang legit dengan susu cair merupakan minuman yang sangat khas. Pagi itu, teh susu ditemani roti bakar yang dioles selai srikaya, atau cakwe khas yang juga ditemani cocolan srikaya akan membuat hari terasa sempurna meski mentari baru saja menyapa. Selain itu, di bagian depan kedai ini, ada keluarga keturunan Tionghoa yang menjual bihun dan kwetiaw yaang luar biasa enak. Jujur seringkali saya malu dengan diri saya sendiri, karena mereka lebih fasih berbahasa Karo dibandingkan saya yang keturunan langsung.

Sampai detik ini, kenangan akan rasa teh, cakwe, dan kwetiaw masih ada di ujung lidah saya. Ingin sekali rasanya kembali ke sana, hanya saja kesibukan di Ibukota ini membuat perjalanan untuk kembali kesana menjadi sesuatu yang sangat mewah. Tapi, suatu saat nanti, ketika ada waktu kosong tentu saja itu akan menjadi tujuan pemesanan tiket pesawat saya. Sebelum itu saya berangkat, teman-teman tentu saja boleh untuk berkunjung dan menikmati udara pagi sambil menyeruput teh panas, cakwe, dan kwetiaw yang nikmat ituu..

Sebenarnya saya tidak memiliki rasa ‘anti’ apapun ke kedai kopi dari mancanegara. Hanya saja, kita sudah punya kebiasaan ini, tapi kenapa kita malah menyumbang pemasukan bagi pedagang lain. Jadi, bagi teman-teman yang memiliki cita-cita untuk membuka kedai kopi (seperti salah satu teman saya yang tidak bisa saya sebutkan namanya), semangat! Saya yakin kalian pasti punya kemampuan untuk bersaing, dan menunjukkan tradisi ngopi orang Indonesia. It might taste like a journey through time and place.. It’s so Indonesia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: