AGAPE dan Budaya

Tanggal 18 Juni 2012 – 22 Juni 2012 yang lalu, para pemimpin dan aktivis gereja dari hampir 30 negara datang ke Indonesia, untuk berdiskusi dalam sebuah Global Forum yang diprakarsai oleh World Council of Churches (WCC-Dewan Gereja Dunia) yang disebut sebagai AGAPE Global Forum. AGAPE sendiri merupakan salah satu nama kasih bagi umat Kristen. Kasih Allah bagi manusia, kasih yang tanpa pamrih, kasih yang setia, kasih yang tidak menuntut, kasih yang tulus, bahkan kasih yang rela mati. Namun AGAPE ini merupakan satu bentuk inisiatif WCC yaitu “Alternatives Global Addressing People and Earth”. Sebuah inisiatif yang menekankan atas bentuk alternatif cara hidup yang perduli atas sesama manusia dan bumi. Hal ini melihat bahwa globalisme di bawah paham kapitalisme dan neoliberlaisme menjadi suatu sistem yang gagal, karena kesejahteraan tetap tidak merata. Bahkan lebih mengerikan karena masyrakat miskin semakin miskin, dan yang kaya menjadi sangat-tidak-masuk-akal kekayaannya.I happened to join the local committee for this event and I’m very happy to share some of the thoughts about it. Here we go.

This initiative pertama kali dicetuskan tahun 1998, kita semua ingat bagaimana kita juga jatuh ke dalam resesi ekonomi (dan politik juga) yang cukup buruk. Indonesia berada dalam kondisi hutang yang sangat dalam dan IMF ingin membantu kita hanya saja dengan syarat pengurangan subsidi dan privatisasi perusahaan pemerintah. Keadaan ini bukannya membuat negara membaik, justru semakin buruk, karena negara sendiri belum sanggup memenuhi dasar bagi masyarakatnya, tetapi masyarakat langsung dituntut untuk bekerja sendiri, sehingga perekonomian kita semakin melemah. Persaingan yang begitu terbuka, awalnya dilihat akan memberikan faktor overflow, dimana kesejahteraan itu akan mengalir dari lapisan atas ke lapisan bawah, sehingga semua orang bisa mendapatkan aksesnya. Hal yang terjadi justru sebaliknya, persaingan bisnis hanya bisa dimenangkan oleh kelompok yang memiliki modal besar, sehingga para pengusaha yang modalnya pas-pas-an hanya bisa gigit jari, dan ikut menjadi konsumen saja. Persaingan ini bisa dikatakan tidak seimbang karena banyak negara maju yang usahanya didukung pemerintah dan memang sudah lebih mapan.

Masyarakat kita justru menjadi korban budaya konsumerisme produk asing, selain itu para pekerja pabrik kita digaji dengan upah yang sangat minim, demi mengurangi biaya produksi untuk meningkatkan keuntungan perusahaan. Selain itu, begitu banyaknya pabrik yang dibangun di negara ini juga mengurangi hak kita atas udara bersih, air bersih, lingkungan yang sehat dan suhu udara yang bersahabat.

Keluarga dan sekolah merupakan sarana utama bagi penanaman budaya dalam diri seseorang. Bagaimana jadinya ketika sekolah kurikulumnya disesuaikan dengan “kebutuhan” globalisme, sedangkan kearifan lokal dan pengenalan pribadi masing-masing siswa tidak ditekankan. Demikian juga dengan keluarga yang memfokuskan anak-anak mereka untuk les bahasa asing dan tidak menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa daerahnya di rumah. Bagaimana orangtua memaksa anak-anak mereka untuk memainkan alat musik asing seperti piano, gitar, biola, flute dan seterusnya. Belajar tari ballet dan menyanyikan lagu-lagu karya Brahms, Bach, dan penggubah Eropa lainnya.

Sadarkah bahwa kita hanya menghapus diri kita, dan membiarkan pribadi kita tersapu gelombang globalisme. Kita punya hak atas kebudayaan kita. Kita punya hak atas diri kita sendiri, untuk menjadi diri kita. Jika memang kita melihat bahwa kebudayaan asing begitu indah dan begitu baik, itu tidak semata-mata karena memang kebudayaan mereka indah, tetapi karena mereka sendiri menyadari keindahannya, merawatnya, dan hidup di dalamnya.

Mungkin secara ekonomi negara ini belum sekuat negara lainnya. Tetapi, negara ini punya ideologi Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang membuat kita kuat menjadi suatu kesatuan. Kita punya kekayaan bahasa, ragam budaya, kesenian, warna dalam kain tradisional, bentuk tarian, lagu, dan alat musik. Itu kekayaan kita, yang sudah ada pada kita sejak dahulu kala.  Stop melihat keluar dan berusaha untuk menjadi orang lain, karena kita tidak akan pernah bisa. Gunakan apa yang sudah ada pada kita untuk melakukan sesuatu bagi perubahan global, bagi dunia, bagi bumi, demi perdamaian. Mulailah dari diri sendiri.

Atha on AGAPE Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: