Hallo! Apa kabar…

Hallo! Apa kabar teman-teman?! It’s been a long time since the last post.. Tapi tidak pernah terpikir oleh saya bahwa ini proyek ini akan berhenti begitu saja. Sejak tahun lalu, saya sudah berproses dan pembelajaran yang saya alami sungguh luar biasa.

Pengalaman yang saya alami membuat saya memiliki pandangan-pandangan bahkan objektif baru mengenai kegiatan proAngsa ini. Begitu banyak diskusi dan hal menarik yang saya lakukan bersama dengan anak bangsa di sekitar saya.

Salah satu karya anak bangsa yang seru akhir-akhir ini adalah pementasan drama musikal yang bertemakan pluralisme dan humanisme tanggal 8 Juni 2012 kemarin, dan saya sangat beruntung saya bisa turut serta dalam proses kreatifnya.Pementasan ini merupakan bagian dari rangkaian Perayaan Lustrum Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Atma Jaya. Pementasan ini ditulis, disutradarai, dan diproduksi oleh lulusan Psikologi Atma Jaya didukung dengan teman-teman lainnya seperti dari Universitas Katolik Parahyangan dan Institut Kesenian Jakarta (ulasan lengkap tentang pementasan ini tertulis dengan baik di Kompas edisi cetak tanggal 26 Juni 2012, hal. 35 – atau mungkin bisa dicari juga secara online).

Judul dari pementasan ini adalah SADA! sebuah akronim dari “sama-sama beda”. Ingin mengungkapkan keberagaman yang ada di Indonesia. Kata SADA dalam bahasa Batak sendiri artinya “satu”, pementasan ini ingin kembali mempertanyakan kepada masyarakat mengenai semboyan Bhineka Tunggal Ika, yang katanya semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ceritanya menunjukkan beragamanya suku bangsa di Indonesia, juga bagaimana provokasi, stereotyping, praduga, dan rasa iri bisa menutupi keindahan, dan hanya menyisakan kebencian. Setiap hal ini tergambarkan juga dalam lagu yang dinyanyikan yag digubah juga oleh teman-teman kita sendiri dari kalangan mahasiswa.

Pementasan ini ditutup oleh Sang Dalang dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka yang dilantunkan dengan lirih. Lagu yang begitu indah dan menyenangkan ini menjadi satu pesan ironis bagi keadaan bangsa kita saat ini. Kalimat “Aku bangga Indonesia punya banyak ragam budaya, kamu?” membuat saya berpikir, apakah kita benar-benar menyadari keadaan kita sebagai kesatuan Bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman budaya, agama, dan suku, ataukah kita hanya peduli tentang diri kita sendiri, dan terbuai dalam upaya pemenuhan konsumerisme dan materialisme?

Ini saatnya kita untuk membuat perubahan. Bukan perubahan menjadi sama dengan negara-negara yang kita anggap maju, negara-negara Barat. Tetapi merubah pola pikir dan cara pandang kita terhadap identitas diri, bangga untuk menjadi diri sendiri. Berani untuk tampil beda, rindu untuk kembali ke “kampung halaman” ke “akar”, sehingga kita menjadi pemuda yang berpribadi utuh, dan mengenal diri kita dengan baik. Berani berbeda, bukan berarti tidak takut akan penolakan. Berani berbeda adalah takut akan hal yang mungkin terjadi, tetapi tetap melakukannya, karena kita tahu dan yakin karena itulah yang baik. Aku akan mulai. Kamu?

 

Atha

Aside

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: