Pemuda dan Kekerasan Media

Tragedi penembakan di Aurora, Colorado pada saat premier pemutaran film Batman, The Dark Knight Rises menjadi salah satu contoh yang paling baru mengenai akibat dari Kekerasan Media. James Holmes (24) menyatakan bahwa dirinya adalah The Joker (musuh Batman), mempersenjatai dirinya dengan banyak senjata dan amunisi, juga membuat “sistem keamanan” di apartemennya, seperti tumpukan bahan peledak dan senjata peluru runcing yang dia “harapkan” bisa berfungsi ketika ada penyusup, penyelidik, ataupun polisi yang masuk ke dalamnya. Hal ini benar-benar mirip dengan yang seringkali kita lihat di dalam film-film box office. 

Dengan membuat dirinya sebagai “The Joker” kita bisa melihat bahwa, Holmes pasti sudah menonton film Batman sebelumnya, Batman The Dark Knight dimana musuh utama Batman saat itu adalah The Joker. Tidak hanya itu, sepertinya Holmes sudah begitu familiar dengan tokoh komik ini. Lalu, muncul pertanyaan, apakah film Batman itu menunjukkan kekerasan yang membahayakan? Apakah film (secara umum) berbahaya??

Kekerasan media muncul tidak hanya dari film, tetapi juga social media, seperti Twitter, Facebook, Youtube, bahkan google search, televisi, koran, majalah, radio, well, semua media komunikasi. Kita berada dalam masa dimana semua itu ada di genggaman tangan kita, pada smart phones kita, tablet kita, pad kita. 

Lalu, apakah kita harus kubur itu semua di dalam tanah, musnahkan dan kembali hidup pada masa jaman pertengahan, dimana segalanya dikirim dengan kurir atau merpati, yang tentu saja bisa memakan waktu berbulan-bulan jika tempat yang dituju di pulau lain, atau bahkan tahunan karena ada di belahan dunia lain?!

Tentu tidak. Teknologi informasi adalah berkat Tuhan. Para penemunya juga mendapatkan anugerah talenta, dan kemampuan dari Tuhan untuk menciptakan teknologi-teknologi baru yang terkadang melebih dari ekspektasi atau bayangan kita. Media informasi sangat memudahkan kita untuk belajar banyak hal, bahkan memberikan pengharapan dan uluran tangan bagi saudara-saudara kita di tempat lain. Media informasi saat ini memperluas pandangan kita, mengenai banyak hal, bahkan mengenai karya-karya Tuhan. Sekarang bagaimana kita melihat tragedi yang terjadi itu? Kenapa hal itu bisa terjadi? Jika tujuan dari teknologi itu baik, mengapa hal mengerikan yang menewaskan gadis kecil berusia 6 tahun, dan yang membuat ibunya terluka parah tak sadarkan diri, seperti itu terjadi?

Saya yakin ada maksud Tuhan dalam setiap kejadian yang terjadi setiap detik dalam kehidupa di dunia ini. Bagi setiap korban pasti ada pembelajarannnya, bagi kita pun demikian. Melalui kejadian ini kita melihat bahwa kita harus terus berjaga-jaga. Bukan urusan keselamatan badan, tetapi justru berjaga-jaga atas jiwa kita sendiri, agar tidak dirusakkan dengan semua pengaruh buruk yang ada di bumi. 

Tidak ada satu halpun yang terjadi di luar diri kita yang bisa kita atur. Kita juga tidak bisa menentukan hal seperti apa yang datang pada kita. Tetapi, satu hal yang pasti adalah bahwa kita memiliki pilihan mengenai reaksi yang akan kita ambil terhadap hal-hal tersebut. Apa yang kita butuhkan untuk membuat pertahanan jiwa yang paling kuat, yaitu dengan nilai-nilai, kontrol sosial, dan kekuatan kearifan lokal yang sebenarnya sudah ada di dalam diri dan masyrakat kita.

Sebagaimana tameng sesungguhnya, setelah menghadapi serangan-serangan, tentulah akan mengalami kerusakan, besar ataupun kecil, atau melemah daya tahannya. Maka, tameng itu pun perlu untuk terus diperbaiki, ditingkatkan kualitasnya, dipoles, dan juga pegangannya diperkuat sehingga tidak mudah lepas dari kita. Bagimana caranya pemuda bisa memperoleh tameng nilai dan kearfan ini? Keluarga dan organisasi masyarakat, baik sekolah, organisasi agama, maupun tempat les, bahkan media itu sendiri. Artinya, kita bersama memegang peranan penting untuk mendistribusikan tameng ini, melalui persekutuan, dialog, kegiatan-kegiatan sosial juga hiburan, dan tentu saja pendidikan.

Holmes, bukanlah orang yang tidak memiliki intelejensia. Dalam berita-berita dikatakan bahwa dia adalah seorang pemuda yang sangat pandai namun pendiam. Ayahnya bahkan memiliki suatu paten atas sebuah alat yang bisa digunakan untuk mendeteksi penipuan telekomunikasi. Dari ayah dan anak ini saja bisa dilihat bagaimana teknologi punya pengaruh baik, bagi sang ayah ini memicunya untuk membuat suatu teknologi yang bisa membantu orang lain, sedangkan anaknya terbawa pada situasi yang merugikan orang lain. 

Holmes mungkin tidak memiliki orang-orang di sekitarnya yang memberikan dia tameng itu, dia tidak berada di sekitar orang-orang yang mengajak dia untuk merawat tameng-tameng nilai dan kearifan yang sesungguhnya sudah ada di dalam dirinya. Kita bisa mengatakan bahwa dia bertanggung jawab penuh atas perilakunya, bahkan kita bisa mengatakan bahwa dia mengalami gangguan jiwa. Tetapi, itu semua juga merupakan tanggung jawab orang di sekitarnya, tidak hanya keluarganya, tetapi masyarakat di sekitarnya.

Jadi saya merefleksikan kejadian ini, dan berpikir tentang apa yang bisa kita pelajari, meskipun kita berada sangat jauh dari tempat kejadian. Bahwa, kita sebagai pemuda memiliki andil paling besar atas diri kita, untuk melindungi jiwa kita dari pengaruh negatif dunia, tetapi sebagai orangtua, kakak, adik, om, tante, kakek, nenek, kita juga memiliki tugas untuk mendistribusikan tameng nilai dan kearifan bagi keluarga kita. Dan sebagai anggota jemaat, mahasiswa, karyawan, dan pemimpin, kita punya tugas untuk memberikan tameng itu. Bagaimana kita medistribusikannya, yaitu dengan melakukan nilai-nilai dan kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari, sehingga kita bisa mempertahankan diri dari pengaruh negatif globalisasi.  Menyatakan jati diri kita sebagai bangsa dalam kehidupan kita dalam kegigihan kita bekerja, keramahan dan kehangatan kita dengan masyarakat di sekitar kita, bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun, melalui tutur kata, juga kerelaan kita untuk berkorban, dan melayani orang lain. Setelah melakukan ini semua, kita pasti akan dimampukan untuk memilih, memilah, dan melaksanakan apa yang baik, dan  menolah apa yang keliru, atau bisa dikatakan bahwa kita bisa menjadi pemuda yang Bakhur. Selamat berjuang dan bersenang-senang!

Hiduplah Indonesia Raya!

Atha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: