Petualangan Toraja II

Kuburan-kuburan di Toraja

Ada banyak Kuburan di Toraja, satu kuburan batu biasanya dimiliki oleh satu keluarga besar, sehingga sebenarnya kuburan-kuburan tersebut adalah milik pribadi yang kemudian dijadikan warisan budaya ataupun tempat wisata. Beberapa tempat yang saya kunjungi disana termasuk Ke’teKe’su, Londa, dan Lemo. Ketiganya adalah kuburan batu yang dimiliki oleh 3 keluarga yang berbeda.

Hanya orang-orang keturunan keluarga tersebut yang dapat dikuburkan (atau secara teknis, disimpan) dalam tempat-tempat tersebut. Cukup eksklusif. Setiap kuburan mempunyai cerita uniknya sendiri. Misal dalam kuburan batu di Londa, ada kisah mengenai sepasang tengkorak yang dikuburkan disana, yang merupakan kisah Romeo dan Juliet versi local. Pada dasarnya kedua tengkorak tersebut dulunya adalah sepasang kekasih, yang juga sepasang sepupu, sehingga tentu saja keluarga besar tidak menyetujui adanya hubungan asmara yang lebih lanjut. Singkat cerita mereka minum racun dan bunuh diri, lalu mayatnya disimpan dalam kuburan batu tersebut.

Itu baru kuburan batu. Di daerah Selatan Toraja, ada kuburan khusus untuk bayi-bayi yang belum tumbuh gigi, tepatnya di tempat yang bernama Kambira. Kuburan ini unik karena proses penguburan bayi-bayi yang meninggal tersebut adalah dibungkus dengan kain Lampin dan daun Pinang lalu dimasukkan kedalam batang pohon besar.

Nama pohon yang menjadi ‘kuburan’ bagi bayi-bayi tersebut adalah pohon Tara. Ada aturan khusus dalam penguburan bayi ditempat ini. Jika sang bayi yang meninggal tersebut berasal dari rumah disebelah utara, maka dia akan dikuburkan di bagian selatan pohon, begitu juga sebaliknya. Adalah kepercayaan masyarakat local, bahwa sang bayi pada akhirnya akan bersatu dengan si Pohon. Ritual penguburan bayi seperti ini hanya berlangsung di bagian Selatan Tana Toraja

Namun praktek penguburan bayi dalam pohon ini telah dihentikan semenjak puluhan tahun yang lalu. Sayangnya lagi, sekitar tiga sampai empat tahun yang lalu angin besar telah merontokan bagian atas pohon yang berfungsi sebagai kuburan ini, sehingga yang tersisa adalah batang pohon besar yang sisa-sisa daun yang masih menjulang tinggi diatas sebagai atraksi bagi para wisatawan.

Upacara Kematian

Sayang sekali setiap saya kesana, saya selalu melewatkan upacara kematian yang menjadi tontonan dan tujuan Utama dari setiap wisatawan yang berkunjung ketempat ini. Apa boleh buat, saya hanya dapat menghampiri tempat ini pada akhir minggu, sedangkan semua upacara adat biasanya berlangsung pada hari kerja. Akhir minggu merupakan waktu beristirahat sehingga tidak ada (mungkin jarang sekali kalaupun ada) upacara yang diadakan oleh masyarakat.

Biasanya upacara kematian di Tana Toraja berlangsung berhari-hari. Acara ini penuh dengan acara dari penerimaan tamu, sampai pertandingan dan pemotongan tedong (kerbau). Satu upacara yang besar bisa menghabiskan dana hingga ratusan sampai miliaran rupiah. Bukan jumlah yang sedikit, namun orang-orang Toraja begitu kuat memegang akarnya sehingga mereka bahkan menunggu hingga tahunan, bahkan puluhan tahun untuk mengumpulkan dana dan melaksanakan upacara tersebut.

Amelia Rhea (Kontributor ProAngsa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: